Tekun, Teken, Tekan

( Zefanya 1: 12-18; Matius 25:14-30 )
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Untuk hidup yang sukses dan bahagia, diperlukan beberapa hal penting; di antaranya diperlukan “Tekun, Teken, Tekan”.

· Sikap tekun: keuletan dalam memperjuangkan sesuatu

· “Teken” ( bahasa Jawa yang artinya “tongkat bantu berjalan” biasanya untuk orangtua ). Kitapun butuh alat bantu jalan bagi perjalanan hidup kita, yang bisa menuntun kita pada hidup sukses dan bahagia, “teken” kita adalah iman dan firman Tuhan.

· “Tekan” ( bahasa Jawa yang artinya “sampai ke tujuan” hidup sukses dan bahagia) jika kita terus “tekun” dan hidup menggunakan “teken” iman dan firman Tuhan.

Matius 25: 14-30 menggambarkan apa tujuan hidup dan kriteria kita disebut berhasil. Ada 2 orang yang berhasil ( Matius 25:21&23 ), yaitu orang yang semula diberi 2 talenta dan 5 talenta yang telah melakukan tanggung jawabnya, sehingga berhasil mendapatkan hasil kerja 2 talenta dan 5 talenta. Kepada kedua orang tersebut, tuan itu memuji dan memberi undangan: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Namun ada seorang yang dipandang gagal oleh tuan itu, bahkan dipandang sebagai hamba yang jahat dan malas, juga dikatakan sebagai hamba yang tidak berguna ( Matius 25:26&30 ). Sebab ia tidak mengusahakan 1 talenta dari tuannya, tapi malah menimbunnya dan tidak ada usaha sedikitpun; tidak juga menyerahkan pada orang lain untuk diusahakan, bahkan berpandangan negatif pada tuan yang baik hati itu. Akibatnya orang tersebut dimasukkan ke dalam hukuman ( ke dalam kegelapan ).

Dari kisah tersebut kita belajar beberapa hal:

– Yang menilai kita berhasil atau gagal adalah tuan kita ( bukan diri kita sendiri ). Tuan kita adalah Allah Pencipta kita, yang sudah memberikan talenta ( yaitu semua bakat, kemampuan, modal yang Pencipta telah berikan pada kita ).

– Tuhan meminta usaha konkret kita untuk mengembangkan talenta yang sudah diberikan-Nya, usaha kita sangat dihargai-Nya.

– Tuhan akan menilai kita jahat, malas, tidak berguna, jika kita pasif, tidak mengembangkan talenta yang sudah Tuhan berikan. Ia akan mengambil talenta yang sudah diberikan, dan akan memberikannya pada orang lain yang bertanggungjawab ( mau mengembangkan talenta karunia Tuhan ). Bagi orang-orang seperti ini, Zefanya 1: 12-18 mengingatkan kita, bahwa akan ada hari “penghukuman”.

 

Sopo seng TEKUN golek TEKEN bakal TEKAN” ( pepatah orang Jawa )

 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan dikatakan hamba yang baik atau kita akan dikatakan hamba yang jahat? Sikap macam apakah yang akan kita ambil, jika Tuhan suatu hari akan menuntut pertanggungjawaban atas semua talenta yang sudah Ia berikan? Usaha dan upaya apa yang akan kita lakukan, agar kelak suatu hari nanti kita mendapatkan pujian dan mendapatkan undangan dari Tuhan: “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.”?

 

( Pdt. PL )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry