Tentang “Quality Time”

Hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada orang lain adalah waktu Anda. Karena begitu Anda memberikannya, Anda tidak akan pernah bisa kembali mendapatkannya.
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

 

Mungkin beberapa dari orangtua zaman sekarang suka mengelus dada jika melihat kelakukan anak/anak-anaknya. Biasanya yang keluar dari mulut: “Ya begitulah anak zaman kekinian…”. Anak-anak yang lebih senang foto selfie, cari perhatian di media sosial, nongkrong di luar rumah hampir seharian, dan lain-lain. Kita mungkin juga bisa dengan mudah menuduh mereka yang selalu curhat di media sosial sebagai anak alay ( disebut anak layangan, karena mudah gamang dan terombang-ambing mengikuti “arah angin” ). Tapi pernah gak berpikir: bisa jadi mereka ( anak alay ) ada akibat dari sikap orangtua/keluarga mereka, yang tidak punya cukup waktu untuk mendengarkan curhat/memberikan perhatian pada hal-hal yang dianggap remeh dari anak/anak-anaknya. Begitu pula bisa sebaliknya: jika ada orangtua ikutan “alay”, bisa jadi karena anak/anak-anaknya/pasangannya kurang memerhatikannya.

Beberapa waktu lalu ada sebuah iklan komersial restoran cepat saji, inisial restorannya “McD”, yang isinya mengulik soal ini: waktu favorit dalam sebuah keluarga. Headlinenya: Samakah waktu favorit orangtua dan anak/anak-anaknya?

Seorang ibu muda, Ibu Sassa, mengatakan kalau waktu favoritnya ketika mengerjakan hobinya, yaitu menari. Selain itu dia juga bekerja sebagai brand manager, yang sudah pasti cukup menyita waktu. Saya yakin ibu muda ini melakukan hobinya di saat weekend, hari Sabtu/Minggu. Tapi apa kata anaknya, Jesse, soal waktu favoritnya? Jesse mengatakan kalau waktu favoritnya adalah ketika ke mal bersama mama, papa, dan kakaknya lalu bisa beliin baju buat mamanya ( Ibu Sassa ) … “Suka kengen kalau mama kerja” tambah Jesse.

Lain lagi pengakuan Bapak Rendra; waktu favoritnya adalah ketika bisa main komputer sendirian, nonton film, main gitar, main PS sendirian … tetapi menurut anaknya, Reva, waktu favoritnya adalah ketika lihat papanya main PS. Karena saat itu dia melihat papanya ketawa-ketawa, jadi Reva ikutan ketawa. “Aku kangen sama papa kalau aku tidur duluan itu rasanya kayak mau ketemu papa” tambahnya.

 

Setelah melihat iklan komersial ini, saya jadi teringat istilah yang cukup menggelitik: quality time. Apa itu tepatnya: waktu yang berkualitas? Apakah seperti: “Oke, papa sama mama punya waktu jam 5 sampai jam 7 pagi, lalu kalau malam antara jam 7 sampai jam 9. Sama hari Sabtu. Kalau papa mama gak ada kegiatan di hari Minggu, kita jalan-jalan bareng. Tapi dari sore sampai malam saja ya.” Kemudian hanya di waktu-waktu itulah anak/anak-anaknya boleh “mengganggu” orangtuanya dengan celotehan remeh temeh atau pertanyaan-pertanyaan konyol seperti: “Kenapa bebek suka jalan beramai-ramai?” atau “Kok bisa sih orang yang digigit laba-laba jadi Spiderman?”. Di saat lain, di luar quality time, ketika anak/anak-anaknya mau main bareng, curhat, dan lain sebagainya, mereka harus menunggu sampai orangtuanya rehat dulu atau ketika tidak ada pekerjaan. Sehingga pertanyaan “Sudah makan?” atau “Sudah tidur siang?” lewat telepon yang dirasa ( menurut orangtua ) sebagai bentuk perhatiannya, lama-lama dianggap gak penting oleh anak/anak-anaknya seiring bertambahnya usia mereka. Bahkan kemudian beberapa lebih akrab dengan asisten rumah tangga atau supirnya, ketimbang dengan orangtuanya, karena merekalah yang lebih sering dicurhatin, lebih tahu jadwal kesehariannya, dan dianggap lebih punya waktu untuk ( menemani ) mereka.

 

Meme sindiran untuk orangtua, yang anaknya lebih akrab dengan ART-nya.

 

Saya pikir dengan kepolosannya, anak-anak belum bisa memahami kesibukan orangtua itu untuk masa depan anak/anak-anaknya. Lalu biasanya orangtua akan berkata: “Kelak mereka akan mengerti. Saya melakukan ini semua untuk mereka.” Kemudian ketika para orangtua mulai sukses, mulai lebih punya porsi waktu lebih untuk keluarganya; di saat itu anak/anak-anaknya terlanjur sudah beranjak dewasa, sibuk dengan aktivitas/pekerjaannya, dan hal itu menjadi berbalik: “Papa dan mama pasti paham dengan kesibukanku. Toh aku melakukan ini agar mereka bangga padaku.” Saya kira inilah yang terjadi pada banyak keluarga belakangan ini.

Oleh karena itu, berikanlah lebih banyak waktu, investasikan “aset” ini ( waktu ) untuk hal-hal yang pasti terjadi: anak/anak-anak Anda akan bertumbuh dewasa, dan para orangtua akan terus beranjak tua. Saat ini, mungkin, bagi para orangtua, dunia Anda begitu banyak: pekerjaan, hobi, relasi dengan teman/sahabat … tapi bagi anak/anak-anak Anda, dunia mereka hanya Anda semata. Sehingga, waktu para orangtua adalah hadiah terbaik bagi anak/anak-anaknya.

Jadi, mulai saat ini, buatlah hari Minggu sebagai hari yang spesial untuk keluarga; dan di hari-hari lain juga sih seharusnya 🙂

 

( Vic )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2