Tuhan Yang Transaksional

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Sejak lahir saya sudah beragama Kristen. Kedua orangtua saya Kristen, saya besar di lingkungan Kristen, dan sekolah di TK dan SD Kristen. Setiap hari Minggu, saya mengikuti kegiatan Sekolah Minggu ( ketika anak-anak ), dan mengikuti persekutuan Remaja ketika SMP. Saat SMA, saya juga aktif di kegiatan keagamaan dan bahkan beberapa kali diminta untuk memimpin Pendalaman Alkitab (PA). Karena saat itu, kemampuan berbicara dan pengetahuan saya lebih baik dibandingkan teman-teman lainnya. Jadi, bisa dibilang, saya telah mendapatkan dasar kekristenan yang kuat sejak usia dini.

Tetapi, sejak dewasa ( lulus SMA ), saya merasa ada lubang yang kosong dalam relasi saya dengan Tuhan. Ada perasaan hampa dan pemahaman yang keliru tentang Tuhan. Tuhan yang saya pahami adalah Allah yang transaksional. Tuhan yang penuh berkat jika kita berbuat baik dan Tuhan yang akan menghukum jika kita berbuat salah. Awalnya saya tidak menyadari hal itu. Saya pikir, hal tersebut wajar dalam pemahaman iman Kristen, pun pemahaman yang demikian tak akan menjadi masalah yang serius bagi hidup saya.

Sampai akhirnya 4 tahun lalu saya iseng mengikuti Sekolah Konseling atau School of Counseling ( SOC ) di GKI Gejayan. Bermula dari ke”iseng”an itu, saya justru mendapatkan banyak hal pemahaman tentang luka dalam diri saya. Saya merasa “tertampar” terutama saat mengikuti materi “Identitas Hamba Tuhan” dan “Luka Batin”. Ternyata saya cukup kesulitan memahami gambaran dan pribadi Tuhan yang adalah kasih, karena masa lalu saya yang kelam. Saya tidak pernah mendapatkan afirmasi ( peneguhan ) dari bapak saya, sehingga ketika hubungan dengan bapak di dunia buruk, relasi saya dengan Bapa di surga pun menjadi buruk pula. Kasih sayang dari ibu saya juga selesai saya rasakan, ketika Tuhan memanggil ibu saya ke surga saat saya masih remaja. Di satu sisi saya merasa marah kepada Tuhan, tetapi di sisi lain saya juga takut kepada-Nya.

Akibatnya, saya menjadi orang yang penuh kepalsuan, menggunakan topeng tebal dan penuh kemarahan terhadap keadaan. Di satu sisi saya ingin tampil menjadi anak baik, ingin diterima sebagai orang yang santun, tetapi di sisi lain saya justru terjerumus dalam dosa pornografi, masturbasi, dan kemunafikan. Lalu tiba-tiba, di tengah perjalanan mengikuti sekolah konseling, saya pun mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan. Saya harus mengakhiri hubungan dengan pacar saya, padahal kami akan berencana menikah di tahun berikutnya. Saya pun makin marah dengan keadaan, makin kecewa dengan Tuhan. Meski sesungguhnya saya takut jikalau Tuhan akan berbalik marah kepada saya ( dalam pemahaman yang saya miliki terkait Tuhan yang transaksional ).

Kemudian saya menjalani konseling pribadi, saya mengikuti program pemulihan yang direkomendasikan oleh SOC, dan saya terus berproses mengikuti sekolah konseling. Tidak ringan, tetapi saya berkomitmen untuk pemulihan. Cukup berat, tetapi saya bersyukur Tuhan membuat saya kuat.

Sampai sekarang saya masih berproses untuk memahami gambaran pribadi Tuhan yang adalah kasih. Tuhan yang memberikan cinta tak bersyarat; bukan Tuhan yang transaksional, bukan juga Tuhan yang penuh perhitungan.

– kesaksian dari peserta SOC tahun 2014 ( angkatan-6 ) –

********/*******

Saudara, seringkali kita tidak mengenali dan memahami luka batin yang kita miliki. Tanpa sadar, luka-luka itu terlalu lama bersemayam dalam diri kita dan menjelma perasaan-perasaan yang kita anggap ‘biasa’ dan ‘baik-baik saja’. Padahal, luka-luka yang tidak disadari itu berpotensi besar dalam membelokkan tujuan hidup kita, membuat kita terkungkung dalam dosa, dan bahkan menikmatinya. Hingga pada titik tertentu, luka-luka di masa lalu itu dapat membuyarkan pemahaman kita akan gambaran Tuhan, pribadi Tuhan yang penuh kasih. Kita menjadi tak mampu merasakan dan menghayati kasih yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

Oleh sebab itu, mulailah untuk berani membuka diri. Pelayanan Tim Konseling GKI Gejayan siap membantu Anda.

Klik -> ministry.gkigejayan.or.id/infokonseling/

 

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry