Tujuan Hidup

"Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah."
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Hampir setiap kita pasti pernah berkeliling tanpa tujuan (dengan motor/mobil) hanya untuk menghabiskan waktu. Atau saat sedang galau. Saat itu pasti kita berkendara dengan laju yang pelan; bahkan saat mendekati perempatan, kita sengaja melambat karena ingin melihat lampu hijau di detik-detik terakhirnya sebelum berubah menjadi merah.

Juga sebaliknya, hampir setiap kita juga pernah berlomba dengan waktu. Saat itu kita berkejar-kejaran dengan dunia yang berputar untuk mencapai suatu tujuan. Biasanya kita akan berkendara dengan laju, mengebut di jalanan, dan kadang malah sampai melanggar lampu merah. Atau berlarian di bandara; dari terminal satu ke terminal lainnya, untuk mengejar (menyambung jadwal) pesawat berikutnya.

Karena tidak ada tujuan, hidup terasa berjalan lamban. Kita pun juga ikut melambat. Santai kayak di pantai, selow kayak di Solo… kata anak zaman old. Tapi beda jika kita mempunyai tujuan, waktu akan terasa cepat berjalan. Bahkan seandainya saya memiliki Time Stone milik Doctor Strange, saya ingin membuat waktu berjalan melambat, sangat lambat; agar semua yang harus diselesaikan, bisa diselesaikan dengan tepat waktu.

 

Hal itu sama saja dengan kehidupan, misalnya saat masa studi di perkuliahan. Apa yang menjadi tujuan saat di awal menjadi mahasiswa? Koreksi: apakah ada tujuan kita menjadi mahasiswa?

Sebagai mantan mahasiswa, biasanya pertanyaan itu akan terjawab saat sudah masuk semester 5 atau 6. Ada yang beralasan “salah jurusan”lah … Atau berfilosofi “Saya suka bidangnya, tapi ternyata gak suka teorinya” … Bahkan ada yang takut lulus karena berpikir “Setelah ini lalu gimana?.

Untuk yang terakhir, saya pernah kenal dekat salah satu pelakunya. Dia takut lulus kuliah karena tidak tahu setelahnya mau melakukan apa… Kerja? Iya kalau dapat… Kalau gak dapat? Padahal gak lagi dikasih uang bulanan sama orangtua. Kalau dapat kerja … Apa iya nominal gajinya sama kayak yang selama ini masuk rekening tiap tanggal 2? Kuliah lagi (S2)? Uang dari mana? Hingga pada akhirnya hidupnya hanya berkutat di situ-situ saja, tidak ke mana-mana.

 

My sister sent me this picture, in her graduation day…

 

Dari peristiwa itu saya belajar bahwa manusia itu hidup harus punya tujuan, dan tujuannya harus jangka panjang. Karena lulus SD, SMP, SMA, kuliah S1, dapat kerja, atau mungkin lanjut kuliah S2, dst… Semua itu hanya tujuan-tujuan jangka pendek yang harus dilalui, dalam perjalanan menuju tujuan jangka panjangnya nanti. Ibarat games, kelulusan (dari sekolah/kuliah) atau diterima kerja, berhasil memulai usaha, dsb … itu hanya akhir sebuah level saja; bukan akhir “games” kehidupan kita.

Oleh karenanya, pertama, kita harus memiliki tujuan jangka panjang saat hidup di dunia. Belum punya? Coba tanyakan pada Tuhan, apa visi-Nya saat menciptakan kita. Karena bagaimanapun juga, kita harus memiliki memiliki tujuan jangka panjang agar tidak kecewa pada kegagalan-kegagalan jangka pendek. Seperti misalnya, ketika kita gagal diterima bekerja di perusahaan yang kita incar atau judul skripsi ditolak oleh dosen, hal-hal itu bukan berarti akhir dunia dan membuat kita depresi/patah semangat; sebab kita punya tujuan jangka panjangnya. Dan kedua, carilah support system (lingkungan) yang bisa membawa kita lebih dekat lagi dengan tujuan jangka panjangnya. Atau temukan orang/mentor yang bisa membimbing ke arah tujuan kita; orang yang punya visi sama atau paling tidak, mereka yang pernah melewatinya. Hal ini seperti seseorang yang belum pernah berkendara dengan tujuan ke Surabaya dari Jogja, lalu yang dilakukannya hanya mengikuti saja bis dengan trayek Jogja-Surabaya; pasti tidak akan nyasar.

Saya jadi teringat kalimat dari surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (pasal 5 ayat 15-17): “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Pergunakan waktu dan mengertilah kehendak Tuhan.

Kita tidak akan membuang-buang waktu (saat hidup) jika punya tujuan. Dan tujuan itu bisa kita dapatkan jika kita mengerti kehendak Tuhan.

Jadi, apa tujuan hidupmu?

The greatest tragedy is not death, but life without purpose. ” (Rick Warren)

 

(Vic)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21