Yang Terbesar, Yang Menjadi Pelayan

Mikha 3:5-12; Matius 23:1-12
Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail

Kamu lupa diri ya?” ( Aku? Tidak, aku tidak lupa diri! )
Tapi nyatanya…” ( Akh, masa aku begitu?! )

Seringkali orang yang lupa diri tidak menyadari dirinya sudah sedemikian jauh berubah. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mendapatkan kritikan yang amat tajam dari Yesus karena perilaku mereka dalam beribadah, melayani dan berpakaian dengan maksud supaya dilihat orang ( ay. 5 ), suka duduk di tempat terhormat ( ay. 6 ), suka dipanggil ‘rabi’ yang berarti ‘guru’ ( ay. 7 ). Mungkinkah mereka telah berubah dan kehilangan ketulusan atau lupa untuk selalu hidup rendah hati dalam melayani?

Bahkan dalam kitab Mikha 3: 5-12 ada nabi yang demi memperkaya diri, rela bernubuat palsu sekedar untuk menyenangkan pendengarnya, agar mereka mendapatkan banyak “pemberian” atau demi kesejahteraan diri mereka sendiri. Allah marah dengan sikap para nabi yang munafik ini, apalagi mereka “memalsukan” sabda Tuhan.

Memang manusia mudah jatuh pada sikap “gila hormat” dan “suka dihormati”, karena salah satu sifat dasar manusia ialah ia ingin diakui, dipuji, dihargai; maka manusia mudah jatuh (lupa diri), sehingga mungkin tanpa disadari sudah menjadi seorang yang “gila hormat”, “suka disebut guru”, suka dilayani, suka meninggikan diri ( membangga-banggakan apa yang telah berhasil dilakukan: karyanya, pengorbanannya, kelebihannya, dll ), dengan demikian tanpa ia sadari sudah kehilangan ketulusan dan kerendahan hati. Bagaimana dengan kita?

Karena itulah Tuhan Yesus mengingatkan kita ( Matius 23: 1-12 ) agar selalu mengingat hal ini:

Matius 23:11 -> Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
King James Version: But he that is greatest among you shall be your servant.

“Terbesar” dari kata yunani “Meizwn” ( baca: meizon ), artinya: lebih besar, terbesar, yang terbesar, yang lebih besar. Kata “pelayan” dari kata yunani “diakonov” ( baca: diakonos ), artinya: pelayan, pembantu, diaken, yang menunjukkan bukan soal status/jabatan, tetapi apa yang ia kerjakan untuk melayani sesamanya.

Jadi melalui Matius 23:1-12 Tuhan Yesus inginkan kita belajar beberapa hal berikut:

1. Setiap kita hendaknya berproses untuk terus bertumbuh (makin menjadi besar) dalam segala hal, dan tanda-tanda pertumbuhan nampak terlihat dari sikap kesediaan untuk melayani, yakni sikap rendah hati. Inilah tandanya seseorang makin bertumbuh dengan benar. Kapan pertumbuhan itu ke arah yang tidak sehat atau apa tanda-tanda kemunduran? Yaitu ketika kita makin ingin dipuji, dihormati, makin ingin tampil untuk diakui, ingin dilayani, … Seseorang yang mengaku dirinya seorang guru ( rabi ), pemimpin/bapa, harus melakukan tugas dan kewajibannya dengan semangat hamba yang melayani, seperti teladan Kristus yang rela turun ke dunia untuk melayani kita. Yesus bahkan merendahkan diri-Nya begitu rupa, turun ke dunia mengambil rupa sama dengan manusia, membasuh kaki murid-Nya, memikul salib kita dan taat sampai mati di kayu Salib. Karena itulah hanya Yesus yang layak menyandang predikat sebagai Guru, Bapa, Pemimpin ( ayat 8-10 ). Jika hari ini kita seorang guru, pemimpin atau bapak bagi orang lain, hendaknya kita meneladani sikap Yesus!

2. Sikap rendah hati sehingga mau menjadi “diakonos” ( hamba yang melayani ), adalah sikap yang dihargai Allah. Allah sendiri yang kemudian akan meninggikan dia ( ayat. 12 ). Maka kita tidak perlu mencari penghargaan dan kehormatan bagi diri sendiri. Allah yang akan menghargai dan meninggikan jikalau kita memang pantas untuk mendapatkannya. Mari kita fokus pada tugas melayani saja! Terus melayani dan melayani sampai akhir!

Sudahkah “kerendahan hati dan semangat melayani” nampak dalam kehidupan kita?

 

( Pdt. PL )

Facebooktwittergoogle_pluspinterestmail
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry